Sekilas tentang Gus Dur dan kunjungannya ke eN-Ha


Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, lahir di Denanyar Jombang Jawa Timur, 4 Agustus 1940. Kakeknya, KH Hasyim Asy’ari, adalah satu dari pendiri Organisasi Muslim terbesar Indonesia pada pergantian abad lalu. Ayahnya, KH Wahid Hasyim, adalah Menteri Agama pada 1945. Dalam pendidikan, Gus Dur lebih senang bersekolah di sekolah dasar daripada di pesantren, meski ia anak tokoh pesantren. Pilihan ini memang jarang diambil oleh anak-anak yang hidup di lingkungan pesantren. Pesantren ia masuki setelah menyelesaian Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) Yogyakarta pada 1958.
Pada 1959, ia ngangsu kawruh di Pesantren Tegal Rejo Magelang Jawa Tengah, selama dua setengah tahun. Selanjutnya, ia pindah ke Pesantren Tambak Beras Jombang. Selain belajar agama, Gus Dur juga menjadi siswa di Madrasah Mualimi, sekaligus merangkap menjadi petugas administrasi, keamanan, dan kerja serabutan.
Akhir 1963, Gus Dur pergi ke Kairo, Mesir, untuk belajar. Ia belajar di Universitas Al Azhar di Mesir (1964-1966). Pertengahan 1966, Gus Dur pindah ke Universitas Baghdad, Irak, mengambil Jurusan Syariah di Fakultas Hukum Islam. Setelah enam tahun di Timur Tengah untuk mendalami ilmu agama, pada 1970, ia pergi ke Toronto, Kanada, mengambil program pascasarjana. Sambil menunggu kesempatan dibukanya kesempatan pengajuan beasiswa, ia berkeliling selama dua bulan ke pesantren-pesantren di Eropa.
Pemahaman bidang ekonomi diperolehnya selain di SMEP, juga diperolehnya setelah selama lima tahun menjadi anggota Komisi Novib dan LBH. Lalu, ia menjadi Dekan Ushuluddin Universitas Hasyim Ashari di Jombang. Sejak 1974-1980, ia diserahi tugas sebagai Sekretaris Pesantren Tebu Ireng di Jombang. Pada 1980, ia ditarik ke Jakarta untuk menduduki posisi Wakil Sekretaris Dewan Agama (Katib Awal Surya) di Pengurus Besar (PB) NU.
Tahun 1982-1983, ia ikut Tim Enam untuk mempersiapkan konsep-konsep berdirinya koperasi, bersama Boediono (Ketua Bappenas), Saleh Afrazi (Kepala Pusat Penelitian di Departemen Koperasi), Herman Sukardi (Direktur Inkindo, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat), dan ahli-ahli ekonomi lain.
Pada sekitar tahun 96-an, Gus Dur menghadiri acara tahunan yang diselenggarakan oleh pondok kita tercinta PPQ Nurul Huda, pada acara tersebut beliau mengadakan pengajian umum yang biasa diadakan pada saat Takhtim ad-Dirasah Akhir as-Sanah PPQ Nurul Huda yang dihadiri para kiai, tokoh agama, wali santri dan masyarakat sekitar. Dari awal sampai akhir beliau memberikan ceramah pengajian dengan berbagai lelucon hingga pada akhirnya sebelum beliau menutup pengajian beliau mengutip kutipan didalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin “Saat kamu dilahirkan ke dunia kamu dalam keadaan menangis sedangkan orang disekitarmu tertawa maka sayangilah orang-orang disekitarmu agar pada saat kamu meninggalkan dunia orang-orang disekitarmu menangis dan kamu dalam keadaan tertawa”. Hal inilah yang terbesit dalam benak saya sesaat sebelum beliau wafat, beliau sempat guyon dengan anggota keluarganya, mungkin beliau tahu bahwa kelak di alam kubur beliau akan tertawa senang dan puas akan semua amal kebaikannya.
Dalam kunjungannya ke pondok ploso Kediri, Gus Dur bertemu dengan Gus Miek yang merupakan seorang wali masyhur di jawa timur, Gus Miek mengatakan kepada para hadirin “Inilah pemimpin dunia akhirat” entah apa yang melatarbelakangi Gus Miek mengatakan demikian akan tetapi memang hal tersebut sengaja diucapkan Gus Miek, bahkan pada saat ziarah ke makam Tambak Gus Miek menawarkan kepada Gus Dur “Gus gimana kalau anda wafat anda dimakamkan di sini saja sama saya” maksud dari Gus Miek tersebut dimakamkan di makam arba’in auliya’ (makam 40 wali) yang berjarak < 1km dari pondok Ploso Kediri yang sekarang menjadi makam alm Gus Miek dan alm. KH Ahmad Shiddiq (Jember).
Pada saat mudanya beliau pernah nyantri di beberapa pondok di pulau jawa, setelah itu beliau melanjutkan studinya ke Mesir dan Irak, pada saat di Mesir beliau tidak sampai tamat kuliahnya akan tetapi beliau gemar akan membaca di perpustakaan dan menonton bioskop, hal tersebut berbeda sekali dengan rekannya yang juga kuliah di Al Azhar KH A. Mustofa Bisri (Gus Mus) yang selalu konsen pada pelajaran kuliahnya di sana. Sama halnya dengan di Baghdad, beliau tidak sampai menamatkan studinya, akan tetapi beliau gemar membaca buku di perpustakaan. Hal inilah yang menjadikan beliau berwawasan luas sehingga pada saat di Indonesia beliau mengadakan terobosan-terobosan baru yang cemerlang.
Teringat cerita ibu saya pada saat beliau ingin menikah, akan tetapi tidak disetujui oleh keluarganya sehingga beliaupun minggat ke mesir dan pada akhirnya beliaupun dinikahkan. Pada saat beliau dinikahkan, beliau belum berada di Indonesia (beliau pada waktu akad nikah beliau lewat telepon) hingga beberapa saat setelah menikah beliaupun tiba di Indonesia.
Sekilas tentang Gus Dur, semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya dan semoga kita mendapat berakah ilmunya, kami Admin grup eN-Ha Singosari turut berduka cita atas wafatnya Ulama’ besar yang kharismatik tersebut, semoga Allah akan menggantinya dengan berlipat-lipat ulama yang terus-menerus memperjuangkan agama, bangsa dan negara. Amien…..
Biodata
Nama:
Abdurrahman Wahid
Lahir:
Denanyar Jombang Jawa Timur, 4 Agustus 1940
Agama:
Islam
Istri:
Sinta Nuriyah (Lahir di Jombang, 4 Agustus 1940. Pernikahan dilangsungkan secara jarak jauh melalui telepon pada 1968)
Anak:
– Alisa Qotrunada
– Zannuba Arifah
– Anisa Hayatunufus
– Inayah Wulandari
Ayah:
Wahid Hasyim
Ibu:
Solechah
Pendidikan:
– SD, Jakarta (1953)
– SMEP, Yogyakarta (1956)
– Pesantren Tambakberas, Jombang (1959-1963)
– Department of Higher Islamic and Arabic Studies, Universitas Al Azhar, Kairo
– Fakultas Sastra Universitas Baghdad, Irak (1970)
Karya tulis penting:
– Bunga Rampai Pesantren, Dharma Bhakti, Jakarta
– Muslim di Tengah Pergumulan, Leppenas, Jakarta
Penghargaan:
– Penghargaan Magsaysay dari Pemerintah Filipina atas usahanya mengembangkan hubungan antar-agama di Indonesia (1993)
– Penghargaan Dakwah Islam dari pemerintah Mesir (1991) Organisai dan Karir Penting:
– Guru madrasah Mu’allimat, Tambakberas, Jombang, (1959-1963)
– Dosen dan Dekan Fakultas Ushuluddin Universitas Hasyim Asyhari Jombang, (1972-1974)
– Kolumnis, (1972- )
– Sekretaris Pesantren Tebuireng, Jombang, (1974-1979)
– Konsultan di berbagai lembaga dan departemen, (1976- )
– Pengasuh Pondok Pesantren Ciganjur, Jakarta Selatan, (1979-)
– Ketua Tanfidziyah PB Nahdatul Ulama, (1984- )
– Membentuk Forum Demokrasi di Situbondo, (1991)
– Presiden ke-4 RI, (1999-23 Juli 2001)
dll

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: