Menggugat status halal obat beralkohol


Status halal untuk setiap produk makanan tidak bisa ditawar-tawar lagi oleh masyarakat muslim. Pengawasan terhadap halal tidaknya makanan tersebut sudah lumayan ketat dilakukan. Lain halnya jika kita berbicara soal status produk obat beralkohol. Status halal produk obat-obatan, beoleh dikatakan, belum menjadi perhatian serius. Masyarakat sampai kini dinilai masih sangat permisif terhadap status kehalalan obat-obatan yang diminum. Ini terjadi karena kurangnya informasi tentang asal-usul obat-obatan yang beredar di pasaran

Padahal, menurut dr Mas Ahmad Yasa, alumnus Fakultas Kedokteran Unpad Bandung, seperti dikutip dari situs indohalal.com, jika diteliti lebih jauh ternyata ada obat yang di dalamnya terdapat bahan-bahan yang berasal dari barang yang haram seperti babi, plasenta (ari-ari), ataupun bahan-bahan lainnya yang diragukan kehalalannya. Sikap permisif ini barangkali akibat pemahaman tentang hukum darurat yang terkontrol. Padahal dalam ajaran Islam, hukum darurat itu ada batasnya

Salah satu dasarnya yaitu bila dalam keadaan dan kondisi yang sangat terpaksa serta tidak ada alternatif atau pilihan lainnya. Alkohol (etanol) mungkin masih dianggap darurat oleh masyarakat kita bila dicampurkan pada obat-obatan jenis sirup, berapa pun kadar alkoholnya. Mengenai hukum halal-haramnya tentu saja akan ada perbedaan pendapat. Berdasarkan hasil Rapat Komisi Fatwa MUI bulan Agustus 2000, sebagaimana yang dilaporkan dalam beberapa tulisan di internet, ditafsirkan secara kimia bahwa: minuman keras adalah minuman yang mengandung alkohol minimal satu persen

Hasil analisis para pakar di bidang teknologi pangan dan gizi, menunjukan bahwa larutan yang mengandung konsentrasi alkohol sama dengan atau lebih besar dari 1% akan berpotensi memabukkan. Hal ini merujuk pada keterangan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad. Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa Rasulullah melarang meminum air jus buah-buahan yang sudah didiamkan lebih dari 3 hari karena memabukkan (khamar).

Adanya patokan 1 persen ini memudahkan masyarakat memilih dan menentukan apakah suatu produk obat sirup itu bisa dikatakan berpotensi memabukkan seperti minuman keras (khamar) atau tidak. Pembatasan kadar alkohol ini sangat perlu dan tentunya dimaksudkan untuk pencegahan. Sementara di pasaran, tidak sedikit obat-obatan sirup yang mengandung kadar alkohol lebih dari batas 1 persen. Di samping banyak juga obat-obat sirup lainnya yang tidak mengandung alkohol atau setidaknya kadar alkoholnya sangat rendah.

Lantas apakah obat sirup yang kadar alkoholnya lebih dari 1 persen, dengan alasan darurot masih bisa dihalalkan? Para produsen obat-obat tersebut maupun pabrik farmasinya diharapkan meninjau kembali kadar alkohol dalam produk obatnya. Dengan cara itu, di kemudian hari bisa diproduksi obat sirup yang menggunakan pelarut alternatif selain alkohol, yang lebih aman menurut pandangan syari’ah

Pada tahun 1993, dr Kartono Muhammad MPH, selaku ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pernah mengatakan, fungsi alkohol dalam obat yang diminum sudah dapat digantikan dengan bahan lain. Sehingga disarankan untuk mencari alternatif pengganti alkohol dengan jenis pelarut lainnya yang lebih aman menurut Syariah. Adapun alkohol yang terkandung di dalam obat-obatan antiseptik untuk penggunaan luar atau permukaan kulit (bukan sirup untuk diminum), barangkali masih bias dimaklum

Hal ini karena kalau melihat nash-nya dalam Al-Qur’an maupun hadis bahwa khamar (minuman keras) itu hanyalah haram untuk diminum. Oleh karena itu bisa disimpulkan bahwa alkohol yang kadarnya di atas 1 persen meskipun berpotensi memabukkan bila diminum, tapi tidak terlarang untuk disentuh. Jatuhnya hukum haram itu apabila larutan memabukkannya diminum, dan bukannya disentuh. Dengan demikian, penggunaan alkohol yang berkadar lebih dari 1 persen untuk penggunaan antiseptik kulit masih bisa diterima oleh syari’ah

Adanya obat-obatan yang diragukan kehalalannya, apa lagi produk obat itu kebanyakan berasal dari luar negeri, maka sudah seyogyanya sekarang, Departemen Agama, Departemen Kesehatan RI dan MUI membahas mengenai status halal bagi obat. Terlebih lagi karena setiap tahun hampir bisa dipastikan selalu hadir berbagai merek obat-obatan yang baru.

Dengan semakin banyaknya variasi dan jenis obat, maka obat-obatan yang berasal dari bahan yang diragukan kehalalannya atau memabukkan (kecuali obat bius) sudah selayaknya ditinggalkan. Alasan darurat tidak bisa digunakan lagi bagi obat-obatan yang mengandung bahan haram atau yang diragukan status kehalalannya. Kalau produk makanan bisa diberikan label halal, mengapa obat-obatan (yang diminum) tidak bisa? Padahal pada hakekatnya obat itu adalah makanan dan makanan itu adalah obat. Obat dan makanan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.yus/dokrep/Februari 2003

HalalGuide – Batuk merupakan salah satu penyakit yang cukup sering dialami banyak kalangan. Sehingga batuk diidentikan sebagai reaksi fisiologik yang normal. Batuk terjadi jika saluran pernafasan kemasukan benda-benda asing atau karena produksi lendir yang berlebih. Benda asing yang sering masuk ke dalam saluran pernafasan adalah debu. Gejala sakit tertentu seperti asma dan alergi merupakan salah satu sebab kenapa batuk terjadi. Obat batuk yang beredar di pasaran saat ini cukup beraneka ragam. Baik obat batuk berbahan kimia hingga obat batuk berbahan alami atau herbal. Jenisnya pun bermacam-macam mulai dari sirup, tablet, kapsul hingga serbuk (jamu). Terdapat persamaan pada semua jenis obat batuk tersebut, yaitu sama-sama mengandung bahan aktif yang berfungsi sebagai pereda batuk. Akan tetapi terdapat pula perbedaan, yaitu pada penggunaan bahan campuran/penolong. Salah satu zat yang sering terdapat dalam obat batuk jenis sirup adalah alcohol

Temuan di lapangan diketahui bahwa sebagian besar obat batuk sirup mengandung kadar alkohol. Sebagian besar produsen obat batuk baik dari dalam negeri maupun luar negeri menggunakan bahan ini dalam produknya. Beberapa produk memiliki kandungan alkohol lebih dari 1 persen dalam setiap volume kemasannya, seperti Woods, Vicks Formula 44, OBH Combi, Benadryl, Alphadryl Expectorant, Alerin, Caladryl, Eksedryl, Inadryl hingga Bisolvon.

Penggunaan alkohol dalam obat batuk merupakan polemik tersendiri, terutama di kalangan umat Islam. Bolehkah alkohol digunakan dalam obat batuk? Apakah sama statusnya dengan alkohol pada minuman keras? Sebenarnya apa sih fungsi alcohol ini ?

Menurut pendapat salah seorang pakar farmasi Drs Chilwan Pandji Apt Msc, fungsi alkohol itu sendiri adalah untuk melarutkan atau mencampur zat-zat aktif, selain sebagai pengawet agar obat lebih tahan lama.

Dosen Teknologi Industri Pertanian IPB itu menambahkan, Berdasarkan penelitian di laboratorium diketahui bahwa alkohol dalam obat batuk tidak memiliki efektivitas terhadap proses penyembuhan batuk, sehingga dapat dikatakan bahwa alkohol tidak berpengaruh secara signifikan terhadap penurunan frekuensi batuk yang kita alami.
Sedangkan salah seorang praktisi kedokteran, dr Dewi mengatakan, Efek ketenangan akan dirasakan dari alkohol yang terdapat dalam obat batuk, yang secara tidak langsung akan menurunkan tingkat frekuensi batuknya. Akan tetapi bila dikonsumsi secara terus menerus akan menimbulkan ketergantungan pada obat tersebut. Berdasarkan informasi tersebut sebenarnya alkohol bukan satu-satunya bahan yang harus ada dalam obat batuk. Ia hanya sebagai penolong untuk ekstraksi atau pelarut saja.

Sebenarnya pada kondisi darurat, obat yang mengandung bahan haram atau najis bisa digunakan. Definisi darurat dalam pandangan fiqih adalah bilamana nyawa seseorang sudah terancam dan pada kondisi tersebut tidak ada alternatif lain yang bisa menyembuhkannya. Pandangan darurat terhadap penggunaan alkohol dalam bahan obat-obatan saat ini merupakan hal yang cukup penting. Terutama dikaitkan dengan status halal dan haramnya. Berdasarkan hasil rapat komisi fatwa pada bulan Agustus 2000 disebutkan bahwa semua jenis minuman keras haram hukumnya, segala sesuatu yang mengandung alkohol itu dilarang karena haram dan minuman keras adalah minuman yang mengandung alkohol minimal 1 persen, termasuk dalam obat-obatan, tak terkecuali obat batuk.

Penggunaan alkohol berlebih akan menimbulkan efek samping. Chilwan Pandji mengatakan, konsumsi alkohol berlebih akan menimbulkan efek fisiologis bagi kesehatan tubuh, yaitu mematikan sel-sel baru yang terbentuk dalam tubuh. Selain itu juga efek sirosis dalam hati, dimana jika dalam tubuh manusia terdapat virus maka virus tersebut akan bereaksi dan menimbulkan penyakit hati (kuning). Selain haram, penggunaan alkohol dalam obat akan lebih banyak menimbulkan mudharat daripada manfaatnya. Chilwan Pandji menambahkan bahwa pada saat ini telah ditemukan berbagai macam obat alternatif yang memiliki fungsi sama dengan obat batuk yang mengandung alkohol tersebut.

Bahan obat batuk ini biasanya berasal dari tumbuhan atau sering disebut obat herbal, dimana diketahui tidak membutuhkan alkohol dalam pelarutan zat-zat aktif, tetapi dapat menggunakan air sebagai bahan pelarut. Obat batuk herbal yang berasal dari bahan alami ini pada dasarnya tidak berbahaya, dan dari segi kehalalannya sudah lebih dapat dibuktikan. Dengan banyaknya alternatif obat batuk non alkohol itu maka aspek darurat sudah tidak bisa digunakan lagi. Oleh karena itu sebaiknya kita cari obat batuk non alkohol dan mulai meninggalkan yang beralkohol. Dengan demikian obat yang kita konsumsi terbebas dari bahan haram dan najis.republikaonline

 

Obat dengan Alkohol dan Plasenta

 

Ada label obat yang tidak mencantumkan kandungan alkohol, ada yang tidak menjelaskan asal plasenta yang digunakan. Obat batuk laris hari-hari ini. Pasalnya hujan, banjir, dingin, menebarkan virus influenza dan batuk

pilek. Meski demikian, tetaplah selektif dalam memilih

obat batuk. Sebab, Lembaga Pengkajian Pangan, Obat, dan Kosmetika

(LPPOM) MUI mensinyalir banyak obat dan kosmetik yang mengandung bahan haram. Menurut hasil penyigian

mereka, dari 120 perusahaan, hanya 5 yang memiliki label halal. Sayang, LP POM MUI menolak

mempublikasikan produk obat dan kosmetik yang mengandung bahan haram itu. “Saya tidak bisa sebutkan produknya. Kami juga tidak berhak mengatakan, yang berhak Badan POM,” tegas Direktur LP POM MUI Dr Nadratuzzaman Hosen dalam jumpa pers di Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa (13/3/2007). Meski menjalin kerjasama dengan Depkes dan Badan POM, LP POM MUI, imbuh dia, hanya melakukan kajian produk-produk tersebut secara keilmuan, ditambah pendapat kaum ulama. Di pasaran, banyak obat batuk yang masih mengandung alcohol melebihi batas kehalalan. Seperti dikutip Republika, menurut Product Manager PT Indofarma, Agus

Kuanto, memang banyak perusahaan obat batuk yang memakai alkohol dalam produk yang dibuatnya. Fungsi alkohol adalah untuk melarutkan bahan-bahan kimia dalam obat tersebut. Selain itu juga sebagai pengawet agar obat bisa tahan lama. Tetapi umumnya, lanjut Agus, kandungan alkohol itu sangat kecil. Yaitu hanya sekitar lima persen. ”Alkohol tidak berhubungan dengan efektifitas penyembuhan batuk. Tapi hanya untuk melarutkan

bahan-bahan kimia yang terkandung di dalam obat batuk tersebut dan sebagai pengawet. Misalnya untuk mengikat menthol agar lebih terasa di tenggorokan,” ungkapnya. Mantan Direktur LPPOM MUI, Prof Aisjah Girindra, mengatakan, fungsi alkohol sebagai pelarut dalam obat batuk sebenarnya bisa digantikan dengan alternative lain yaitu air atau zat kimia lain yang tidak mengandung alkohol. Ia pun membenarkan, khasiat obat batuk tidak tergantung kandungan alkoholnya. Melainkan tergantung bahan-bahan aktif yang ada di dalamnya. Artinya, alkohol tidak berkorelasi langsung dengan penyembuhan batuk. ”Sekali lagi, yang menentukan adalah kandungan bahan aktifnya dan bukan alkoholnya,” kata Aisyah menegaskan. Kandungan alkohol atau etanol dalam suatu cairan, merupakan salah satu indikator khamar yang haram bagi umat Islam. Larangan ini didasarkan pada wasiat Nabi Muhammad Saw. Suatu hari, sahabat Nabi yang bernama Thariq Ibn Suwaid bertanya kepada Rasulullah, bolehkah meminum sedikit saja khamar. ”Tidak,” tegas Nabi. ”Bagaimana kalau itu dimaksudkan untuk obat?” Thariq mencoba menawar. Kata Rasulullah, ”Khamar bukan obat,tapi penyakit.” Demikianlah hadits yang diriwayatkan Muslim, Abu Daud, Ahmad dan Turmudzi. Dalam riwayat Abu Daud dikisahkan, suatu ketika Dailam Al Humari mengungkapkan kepada Nabi bahwa kabilahnya mempunyai tradisi minum air perasan anggur. Konon, dengan menenggak jus anggur itu, badan hangat dan lesu hilang. Al Humari lalu bertanya, apakah kebiasaan tersebut dibolehkan agama. Rasul balik bertanya, apakah minuman itu memabukkan. ”Dalam jumlah tertentu, ya,” terang Al Humari. Kalau begitu, jawab Nabi, “Jauhilah minuman tersebut.” Imam Ahmad, Muslim, Abu Daud dan At Tirmidzi meriwayatkan, Thariq bin Suaid Al Ju’fie pernah bertanya pada Rasulullah saw mengenai khamr untuk obat. Rasulullah tetap melarangnya sambil mengatakan, ”Sungguh, khamr bukan obat, tapi justru penyakit.” Namun, DR Anton Apriyantono menjelaskan bahwa pengharaman obat beralkohol bukan lantaran factor keberadaan alkoholnya, tapi lebih kepada berapa kadar alkohol itu. ”Sebab, alkohol atau etanol juga terdapat di banyak bahan pangan secara alami, seperti dalam buah-buahan segar,” jelas auditor LPPOM MUI yang kini Menteri Pertanian RI. Nah, dalam hal ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah menetapkan kriteria obat beralkohol yang halal. Dalam Rapat Komisi Fatwa Agustus 2000, MUI menetapkan bahwa yang disebut minuman keras adalah minuman yang mengandung alkohol minimal 1% (satu persen). Inilah yang tergolong khamar, baik dalam bentuk minuman maupun obat. Menurut hasil analisis para pakar di bidang teknologi pangan dan gizi, larutan yang mengandung konsentrasi alkohol sedikitnya 1% memang berpotensi memabukkan. Rasulullah Saw pun, dalam hadits yang diriwayatkan Muslim dan Ahmad, melarang meminum jus buah-buahan yang sudah didiamkan (pada suhu kamar) lebih dari 3 hari karena memabukkan (khamar). Menurut penelitian, jus semacam ini kadar alkoholnya minimal 1%. Sesuai peraturan Depkes mengenai alkohol dalam obat, jika suatu syrup obat mengandung alkohol harus mencantumkan kadar alkoholnya dalam label pada kemasan. Nyatanya, sejumlah syrup obat masih mengabaikan peraturan ini. Termasuk misalnya, syrup obat tetes yang menurut ISO Indonesia edisi

Farmakoterapi 2000, kandungan alkoholnya mencapai 10%.

 

Obat Kulit Berplasenta

Plasenta manusia telah digunakan sebagai bahan kosmetika sejak 1940. Khasiatnya, konon, menghilangkan kerutan, dan menstimulir pertumbuhan jaringan. Plasenta lantas dikenal sebagai kelompok obat, yang kemudian oleh FDA dinyatakan sebagai misbranded. Pada tahun 70-an, Kuba sudah mulai mengekspor sebanyak 40 ton plasenta manusia ke Meriux Laoratorium di Perancis untuk bahan kosmetika. Plasenta itu dikumpulkan dari rumah sakit bersalin dan kebidanan, lalu disimpan dan dijaga agar tidak beku. Plasenta kemudian diekstraks dan diproses sesuai dengan produk yang diinginkan, dikemas untuk selanjutnya diperdagangkan. Setelah mampu mendayagunakan sendiri untuk obat penyakit kulit vitiligo (tidak berpigmen), pada tahun 1980-1982 pemerintah Kuba menghentikan pengiriman plasenta ke Perancis dan memulai memproduksi obat Melagenina. Obat ini kemudian juga diproduksi oleh Mexico, Venezuela, dan Kolumbia. Di tanah air, ada sejumlah obat maupun kosmetika yang mengandung plasenta. Memang bahan ini sudah diterakan paad labelnya, tapi tidak dijelaskan dari mana asal plasenta. Apakah dari manusia, atau binatang. Menurut fatwa MUI No. 2/MunasVI/MUI/2000, penggunaan kosmetika yang mengandung atau berasal dari bagian tubuh manusia, termasuk plasenta, hukumnya haram. Dewan Hisbah Persatuan Islam (PERSIS), dalam sidangnya pada hari 2 September 2000 di Sumedang, Jawa Barat, juga mengharamkan penggunaan plasenta untuk kosmetika. LPPOM MUI, sesuai namanya, sebenarnya juga melayani sertifikasi halal untuk obat. Namun, seperti tampak pada daftar produk bersertifikat halal, nyaris tidak ada jenis obat di situ. Soal keengganan produsen mengajukan sertifikasi halal, ditambahkan Dewan Pembina LP POM MUI Prof Dr Jurnalis Uddin, ada dua kemungkinan. Yang pertama, kadar keagamaan produsen belum begitu baik. Kedua, ada kemungkinan produk obat dan kosmetik itu mengandung bahan yang haram atau proses yang haram. “Padahal kalau kerjasama dengan kita malah bisa bagus untuk penjualannya. Di Singapura saja, kalau sertifikat halal berbondong-bondong orang beli,” tutur Jurnalis. Sementara itu Wakil Direktur LP POM MUI Anna P. Roswiem, menyayangkan bahwa sertifikasi halal belum diwajibkan pada obat, kosmetik dan produk makanan. Padahal dari temuan ilmiah, di lapangan sudah banyak yang mengungkan fakta sejumlah produk obat dan kosmetik mengandung lemak babi, gelatin dari babi, alkohol, bahkan plasenta manusia. Karena itu LP POM MUI, tambah Hosen, akan meminta ketegasan dari ulama untuk membahas masalah ini.

1 Comment (+add yours?)

  1. pu3
    Jan 13, 2011 @ 14:55:46

    bs mnta tlng dikirimkan bunyi atau tulisan hadisnya, hadis dr Rasulullah yg diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad tentang larangan minum jus yang telah didiamkan 3 hari?
    saya butuh untuk skripsi,mkasaih,tlng bgt ya.ditunggu.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: